BerandaSemua Cerita
Kejahatan & Rahasia
Malapetaka & Takdir
Legenda & Rival
Sejarah yang Hidup
Coba Aplikasinya
Dibantah: Para Cendekiawan Abad Pertengahan Tidak Pernah Percaya Bumi Itu Datar
4 Jul 2026Mitos, Dibongkar6 menit baca

Dibantah: Para Cendekiawan Abad Pertengahan Tidak Pernah Percaya Bumi Itu Datar

Abad Pertengahan yang percaya bumi datar itu tidak pernah ada. Bede, Aquinas, dan sebuah buku teks wajib universitas semuanya mengajarkan bahwa Bumi berbentuk bola, berabad-abad sebelum Columbus berlayar.

Bayangkan sebuah adegan: seorang biarawan di ruang tulis yang diterangi lilin, membungkuk di atas sebuah manuskrip, sungguh-sungguh yakin bahwa jika sebuah kapal berlayar cukup jauh ke barat, kapal itu akan terjungkal dari tepi dunia dan jatuh ke dalam kegelapan. Di sekelilingnya, sebuah Gereja yang memperlakukan gagasan bumi bulat sebagai bidah, siap membakar siapa pun yang mengatakan sebaliknya. Lalu datanglah Christopher Columbus, seorang pria rasional yang sendirian, bersenjatakan geometri, yang harus mendebat habis satu ruangan berisi rohaniwan yang ketakutan sebelum bisa mendapatkan dana untuk pelayarannya. Ini kisah yang indah tentang kemenangan akal sehat atas takhayul, dan telah diajarkan dalam berbagai bentuknya selama lebih dari satu abad. Ini juga hampir sepenuhnya karangan belaka.

Para cendekiawan abad pertengahan tidak menganggap Bumi itu datar. Bukan para teolog, bukan para astronom, bukan pula mahasiswa universitas yang diwajibkan mengikuti kuliah tentang topik itu. Bentuk bulat Bumi sudah menjadi ilmu yang mapan sejak Romawi runtuh, dan tetap mapan sepanjang periode yang oleh sebagian orang masih senang disebut Zaman Kegelapan.

Mitos Itu, Dijelaskan Secara Adil

Kisah ini pantas dipaparkan dengan kekuatan penuhnya, karena memang benar-benar meyakinkan. Dalam versi ini, runtuhnya Kekaisaran Romawi juga berarti runtuhnya ilmu pengetahuan klasik, dan Eropa menghabiskan hampir seribu tahun dalam kemunduran intelektual, dikuasai oleh sebuah Gereja yang mencurigai ilmu pengetahuan kafir. Kepercayaan bumi datar menjadi semacam istilah singkat untuk kemunduran itu: jika orang-orang abad pertengahan bahkan tidak bisa memahami bentuk planet dengan benar, seberapa canggihkah astronomi, kedokteran, atau filsafat mereka sebenarnya? Columbus kemudian hadir sebagai manusia Renaisans yang mendahului zamannya, berhadapan dengan sebuah pengadilan para biarawan yang mengutip kitab suci kepadanya dan memperingatkan bahwa para pelautnya akan jatuh dari tepi dunia. Ia memenangkan perdebatan itu, tetap berlayar, dan membuktikan bahwa Bumi itu bulat. Ini adalah kisah moral yang rapi, dengan kebodohan di satu sisi dan akal sehat di sisi lain, dan kisah ini menyanjung persis narasi yang senang diceritakan oleh budaya modern, sekuler, dan ilmiah tentang kemajuannya sendiri.

Mengapa Mitos Ini Begitu Mudah Dipercaya

Ada beberapa hal nyata yang memberi daya cengkeram pada mitos ini. Periode itu memang disebut "Zaman Kegelapan," sebuah label yang mengundang asumsi kebodohan secara umum, meskipun kebanyakan sejarawan kini menganggapnya menyesatkan dan sebagian besar menghindarinya. Peta-peta abad pertengahan juga tidak membantu. Peta T-O yang terkenal, ditemukan dalam berbagai manuskrip, menampilkan benua-benua yang diketahui tersusun di dalam sebuah lingkaran yang dibagi oleh bentuk T berupa sungai dan laut, terlihat bagi mata modern seperti gambar cakram datar. Padahal bukan. Itu adalah diagram skematis daratan yang dihuni, orbis terrarum atau "lingkaran daratan," dengan cara yang sama seperti peta kereta bawah tanah menyederhanakan sebuah kota tanpa mengklaim bahwa kota itu sebenarnya berbentuk garis lurus. Ada juga konflik nyata antara Gereja Katolik dan para astronom, tetapi itu soal heliosentrisme, gagasan bahwa Bumi mengorbit matahari, dan terjadi pada abad ke-17 dengan Galileo, bukan soal bentuk planet pada abad pertengahan. Kedua kontroversi ini tercampur dalam ingatan populer sampai "Gereja bertikai dengan ilmuwan soal tata surya" berubah menjadi "Gereja menyangkal bahwa Bumi itu bulat," yang merupakan klaim yang sama sekali berbeda dan tidak didukung oleh catatan sejarah.

Dari Mana Sebenarnya Mitos Ini Berasal

Asal-usul yang bisa dilacak adalah sebuah karya fiksi sejarah yang menyamar sebagai biografi. Pada 1828, penulis Amerika Washington Irving menerbitkan "A History of the Life and Voyages of Christopher Columbus," sebuah kisah terlaris yang mengambil kebebasan besar terhadap subjeknya. Irving menciptakan sebuah adegan yang hidup, di mana Columbus tampil di hadapan sebuah dewan pemuka gereja dan cendekiawan Spanyol, yang mengutip kitab suci untuk bersikeras bahwa Bumi itu datar dan mengejeknya karena mengusulkan berlayar hingga jatuh dari tepinya. Ini adegan yang mencekam. Ini juga fiksi. Badan sesungguhnya yang meninjau proposal Columbus, sebuah komisi yang dibentuk di bawah mahkota Spanyol pada akhir 1480-an, memang menolak rencananya, tetapi dengan alasan yang sama sekali berbeda. Setiap cendekiawan di ruangan itu sepakat bahwa Bumi berbentuk bola. Keberatan mereka adalah soal ukurannya. Columbus, yang bekerja berdasarkan serangkaian perhitungan keliru yang dibangun dari Ptolemeus, ahli geografi Marinus dari Tirus, dan pembacaan yang terlalu murah hati atas catatan Marco Polo tentang Asia, meyakini bahwa penyeberangan samudra menuju Jepang bisa diselamati. Para astronom komisi itu menganggap perkiraannya soal keliling Bumi terlalu kecil dan jarak sesungguhnya jauh lebih besar dari yang mampu ditempuh kapal-kapalnya. Soal itu, ternyata, mereka benar dan ia beruntung: ada sebuah benua tak terduga yang menghalangi jalannya.

Siapa yang Menyebarkannya

Adegan rekaan Irving mungkin akan tetap menjadi anekdot yang berwarna saja, seandainya tidak diambil oleh sebuah proyek historiografi tertentu di kemudian hari pada abad ke-19. Dua penulis berpengaruh, kimiawan John William Draper dalam bukunya tahun 1874, "History of the Conflict Between Religion and Science," dan sejarawan Andrew Dickson White dalam bukunya tahun 1896, "A History of the Warfare of Science with Theology in Christendom," membangun sebuah narasi luas di mana agama yang terorganisasi telah menjadi musuh sains sepanjang sejarah Barat. Sebuah kosmologi abad pertengahan yang datar dan dipaksakan oleh gereja menjadi ilustrasi yang sempurna bagi tesis itu, sehingga kedua penulis itu mengulang dan memperbesar adegan dewan rekaan Irving seolah-olah itu adalah sejarah terdokumentasi. Dari sana, kisah itu merembes ke buku-buku pelajaran. Generasi demi generasi siswa pada abad ke-20 mempelajari versi kisah Columbus yang dibangun langsung dari rekaan Irving, lengkap dengan para pelaut yang ketakutan dan seorang penjelajah yang menang gemilang membuktikan para peragu itu keliru. Kisah ini bersih, dramatis, dan sangat cocok untuk satu jam pelajaran di kelas, yang menjadi salah satu alasan besar mengapa kisah ini bertahan jauh lebih lama dibanding bukti yang menyanggahnya.

Apa Kata Sumber-Sumber Primer

Pembongkaran mitos ini bersandar pada dokumen-dokumen yang tidak pernah disembunyikan atau tersembunyi. Biarawan Inggris Beda, menulis sekitar tahun 725 dalam "The Reckoning of Time," menggambarkan Bumi sebagai bulat seperti bola, bukan sekadar melingkar seperti perisai, dan menggunakan bentuk itu untuk menjelaskan mengapa panjang hari berubah menurut garis lintang serta mengapa bayangan lengkung Bumi jatuh menutupi bulan saat gerhana bulan. Berabad-abad kemudian, mahasiswa universitas di seluruh Eropa diwajibkan mempelajari "Tractatus de Sphaera," sebuah buku teks karya cendekiawan John dari Sacrobosco yang ditulis pada awal abad ke-13, yang menghabiskan halaman-halaman pembukanya untuk membuktikan bahwa Bumi berbentuk bola menggunakan bukti yang sama yang sudah dihimpun Aristoteles berabad-abad sebelumnya: lambung kapal menghilang di bawah cakrawala sebelum tiangnya, bintang-bintang yang berbeda mulai terlihat ketika seorang pelancong bergerak ke utara atau selatan, dan bayangan Bumi pada bulan saat gerhana selalu berbentuk lengkung. Thomas Aquinas mengasumsikan Bumi berbentuk bola tanpa komentar apa pun dalam "Summa Theologica," memperlakukannya sebagai hal yang terlalu jelas untuk diperdebatkan. Dante Alighieri membangun seluruh geografi "Divine Comedy," yang ditulis pada awal abad ke-14, di sekitar sebuah planet berbentuk bola, turun melewati Neraka berbentuk bola dan muncul di belahan bumi selatan pada sisi seberangnya. Dan di seluruh Eropa abad pertengahan, para raja dan kaisar dinobatkan sambil memegang bola kekuasaan seremonial, sebuah bola bertopang salib, sebuah perlengkapan kebesaran yang seluruh simbolismenya bergantung pada anggapan bahwa Bumi adalah sebuah bola yang kekuasaannya bisa dipegang seorang penguasa. Tidak satu pun dari ini terdengar seperti sebuah peradaban yang sedang memperdebatkan apakah planet ini bulat atau tidak.

Apa yang Benar Sebenarnya

Perdebatan abad pertengahan yang sungguh-sungguh menarik adalah soal ukuran dan kelayakhunian, bukan soal bentuk. Para cendekiawan berdebat soal seberapa besar sebenarnya Bumi, dengan merujuk dan merevisi perhitungan kuno Eratosthenes, yang menggunakan sudut bayangan di dua lokasi berbeda untuk memperkirakan keliling Bumi dengan presisi yang sesungguhnya. Mereka juga berdebat soal antipoda, orang-orang hipotetis yang mungkin tinggal di sisi jauh bola dunia yang tak terjangkau, sebuah pertanyaan yang mengkhawatirkan para teolog seperti Agustinus dari Hippo berabad-abad sebelumnya, bukan karena bentuk bola Bumi diragukan, melainkan karena populasi terisolasi yang tidak diketahui asal-usul leluhurnya menimbulkan teka-teki teologis yang canggung. Ada, demi keadilan bagi para penganut sejati mitos ini, satu penganut bumi datar sejati yang layak disebut namanya: Kosmas Indikopleustes, seorang biarawan Bizantium abad ke-6 dan mantan pedagang, yang berpendapat dalam karyanya "Christian Topography" bahwa Bumi adalah sebuah persegi panjang datar berbentuk seperti tabernakel dalam Alkitab, ditutupi oleh langit berkubah. Karyanya hanya bertahan dalam sejumlah kecil naskah, ditulis dalam bahasa Yunani, bukan bahasa Latin yang digunakan ilmu pengetahuan Barat, dan tampaknya bahkan oleh orang-orang sezamannya sudah dipandang sebagai sosok pinggiran yang eksentrik, bukan pesaing kosmologis yang serius. Ia bukan bukti tentang apa yang dipercaya Eropa abad pertengahan. Ia justru bukti bahwa hampir tidak ada orang yang mempercayainya.

Pencapaian sejati abad pertengahan bukanlah meragukan para pemikir kuno, melainkan menjaga warisan mereka tetap hidup. Biara-biara menyalin teks astronomi Yunani dan Romawi dengan tangan selama seribu tahun, universitas-universitas membangun kurikulum wajib di sekitarnya, dan pada saat Columbus berlayar, bentuk Bumi adalah salah satu fakta yang paling tidak diperdebatkan di Eropa. Pertanyaan yang menarik tidak pernah soal apakah dunia ini bulat. Melainkan seberapa besar, dan apa yang mungkin menanti di sisi seberangnya.

Jawaban Singkat

Pertanyaan umum seputar topik ini

Benarkah orang-orang di abad pertengahan percaya Bumi itu datar?

Tidak. Orang-orang terpelajar Eropa sepanjang periode abad pertengahan menerima bahwa Bumi berbentuk bola, sebuah fakta yang diwariskan dari astronomi Yunani. Mahasiswa universitas mempelajarinya dari sebuah buku teks wajib, dan para cendekiawan gereja seperti Beda Venerabilis menuliskannya berabad-abad sebelum Columbus berlayar.

Dari mana asal mitos bumi datar ini?

Sebagian besar berasal dari seorang penulis Amerika abad ke-19. Washington Irving menciptakan sebuah adegan dramatis tentang Columbus yang berdebat dengan para pemuka gereja penganut paham bumi datar dalam biografinya tentang sang penjelajah yang terbit pada 1828, dan para sejarawan setelahnya memasukkan kisah itu ke dalam narasi yang lebih luas tentang pertentangan sains melawan agama.

Apakah Columbus harus meyakinkan orang bahwa Bumi itu bulat?

Tidak. Komisi Spanyol yang meninjau proposalnya memperdebatkan luas samudra dan jarak menuju Asia, bukan bentuk planet ini. Setiap cendekiawan di meja perundingan itu sudah sepakat bahwa Bumi berbentuk bola.

Apakah ada orang di masa abad pertengahan yang benar-benar percaya Bumi itu datar?

Sejumlah kecil penulis pinggiran memang mempercayainya, terutama biarawan Bizantium abad ke-6, Kosmas Indikopleustes, tetapi karyanya hanya bertahan dalam beberapa naskah dan nyaris tidak berpengaruh terhadap ilmu pengetahuan abad pertengahan di Eropa Barat.

Tanya Apa yang Sebenarnya Terjadi

Ngobrol dengan tokoh di balik mitos yang masih dipercaya semua orang.

Luruskan Faktanya

Gabung HistorIQly Club

Jadilah lebih cerdas soal masa lalu.

Cerita mingguan, ulasan mendalam, dan konten eksklusif langsung ke kotak masukmu.

Tanpa spam. Bisa berhenti kapan saja.