BerandaKasus Dinginvs HollywoodPerjalanan WaktuArsenalJika Mereka Hidup SekarangAsal-UsulCoba Aplikasinya
The King's Speech vs Sejarah: Apa yang Benar dan Salah dari Hollywood
7 Feb 2026vs Hollywood4 menit baca

The King's Speech vs Sejarah: Apa yang Benar dan Salah dari Hollywood

Penampilan Colin Firth sebagai Raja George VI yang meraih Oscar sungguh tak terlupakan, tetapi seberapa banyak dari The King's Speech yang benar-benar terjadi? Kami memisahkan fakta kerajaan dari fiksi Hollywood.

Sedikit film yang berhasil menangkap drama senyap perjuangan pribadi seperti The King's Speech (2010). Penampilan Colin Firth sebagai Raja George VI yang berjuang melawan gagapnya meraih Academy Award, dan film itu sendiri memenangkan Best Picture, Best Director, dan Best Original Screenplay. Ini adalah film yang sungguh menyentuh hati tentang keberanian, persahabatan, dan kewajiban.

Tapi seberapa banyak yang benar-benar terjadi?

Jawabannya, seperti yang diungkapkan dengan tegas oleh sejarawan Inggris Andrew Roberts, adalah bahwa film ini "salah total dalam menceritakan kisahnya dan sekadar sejarah yang buruk." Itu penilaian yang keras bagi sebuah film yang dibangun atas peristiwa nyata, namun begitu kamu menggali lebih dalam catatan sejarah, berbagai kebebasan artistik yang diambil menjadi sulit diabaikan.

Yang Benar dari Hollywood

Hubungan inti memang nyata. Raja George VI (yang dikenal keluarga sebagai "Bertie") memang benar-benar bekerja dengan terapis bicara asal Australia, Lionel Logue, untuk mengatasi gagapnya. Logue tidak konvensional, santai dalam bergaul, dan sangat efektif. Ikatan profesional mereka bertahan selama beberapa dekade, dan Logue hadir di setiap siaran besar masa perang. Film ini menangkap kehangatan dan rasa saling menghormati dalam kemitraan itu dengan indah.

Krisis abdikasi memang terjadi. Edward VIII memang turun takhta untuk menikahi Wallis Simpson, memaksa adiknya yang enggan naik takhta. Gambaran film tentang kegelisahan Bertie dalam mewarisi peran yang tidak pernah ia inginkan sudah terdokumentasi dengan baik. Ia memang sungguh tidak ingin menjadi Raja.

Pidato masa perang itu nyata dan bermakna. Siaran radio Raja George VI pada 3 September 1939, mengumumkan keterlibatan Inggris dalam Perang Dunia II, adalah momen yang menentukan. Seluruh bangsa menyimak, mengetahui bahwa Raja mereka berjuang dengan masalah bicara. Tekadnya untuk menyampaikan siaran itu tanpa tergelincir adalah tindakan keberanian pribadi yang autentik.

Masa kecil George VI yang sulit memang nyata. Film ini menampilkan seorang pria yang terluka oleh pengasuhan yang keras, termasuk dipaksa menulis dengan tangan kanan meski ia kidal, dan menderita di bawah protokol kerajaan yang ketat. Catatan sejarah membenarkan bahwa masa kecilnya sering kali tidak bahagia, dan gagapnya kemungkinan memburuk akibat tekanan yang diberikan padanya.

Metode Lionel Logue memang tidak konvensional. Logue benar-benar menggunakan latihan relaksasi, teknik pernapasan, dan pembangunan kepercayaan diri yang tidak lazim untuk eranya. Ia bersikeras pada informalitas, memanggil calon Raja itu "Bertie" selama sesi latihan. Pendekatan egalitarian ini tergolong radikal untuk Inggris era 1920-an dan 1930-an.

Yang Salah dari Hollywood

Linimasa dipadatkan hampir satu dekade. Inilah distorsi terbesar film ini. Film menyiratkan bahwa Logue dan Duke of York mulai bekerja sama pada pertengahan 1930-an, hanya beberapa tahun sebelum perang. Padahal kenyataannya, mereka mulai bekerja sama sejak 1926, penuh 13 tahun sebelum siaran bersejarah itu. Ketika perang pecah, mereka sudah bekerja sama lebih dari satu dekade. Film memadatkan ini menjadi seolah hanya dua atau tiga tahun, membuat "kesembuhan" itu tampak jauh lebih dramatis dan mepet waktu dari kenyataannya.

Gagap itu dibesar-besarkan. Penggambaran Colin Firth menampilkan seorang pria yang hampir tidak bisa menyelesaikan satu kalimat pun. Kenyataannya, gagap Raja George VI tergolong ringan. Rekaman pidatonya sebelum ia bahkan bertemu Logue menunjukkan seorang pria yang sesekali gagap tetapi mampu menyampaikan pidato publik yang padu. Pidatonya tahun 1927 di hadapan parlemen Australia di Canberra disampaikan tanpa gagap. Film membutuhkan hambatan yang lebih parah untuk keperluan dramatis, namun jauh melampaui kenyataan.

Posisi Churchill soal abdikasi dibalik. Film menggambarkan Winston Churchill (diperankan Timothy Spall) sebagai pendukung abdikasi Edward VIII. Yang terjadi justru sebaliknya. Churchill adalah salah satu penentang abdikasi paling vokal dan aktif berusaha memberi Edward lebih banyak waktu. Ia ingin Raja tetap di atas takhta dan percaya krisis konstitusional itu bisa diselesaikan. Membalikkan posisi Churchill adalah salah satu kesalahan sejarah paling parah dalam film ini.

Adegan penutup tak pernah terjadi. Klimaks film menampilkan Churchill, Uskup Agung Cosmo Gordon Lang, dan Perdana Menteri Neville Chamberlain berkumpul di Istana Buckingham untuk menyaksikan siaran masa perang Raja, lalu diikuti kerumunan yang bersukacita di luar. Tidak ada satu pun dari ini yang terjadi. Sebagaimana dicatat Andrew Roberts, para pemimpin itu memiliki urusan yang jauh lebih mendesak pada hari perang diumumkan. Tidak ada kerumunan yang berkumpul untuk memberi selamat kepada Raja atas pidato radio. Itu semata-mata rekaan Hollywood.

Edward VIII tidak pernah mengejek gagap Bertie secara sekejam itu. Film menampilkan Edward mengolok-olok adiknya dengan "B-b-b-b-Bertie" dan menuduhnya menginginkan takhta. Catatan sejarah melukiskan gambaran yang sangat berbeda. Kedua bersaudara itu akrab satu sama lain, dan Edward sangat tahu bahwa Bertie sama sekali tidak berhasrat menjadi Raja. Kekejaman itu diciptakan untuk memunculkan tokoh antagonis yang lebih jelas.

Keluarga kerajaan tidak sembarangan soal lift. Ada adegan aneh yang menampilkan Duke dan Duchess of York tidak bisa mengoperasikan lift, seolah mereka begitu dimanjakan pembantu hingga terkecoh mesin paling sederhana. Itu omong kosong. Bertie pernah bertugas di Angkatan Laut Kerajaan dan disebut dalam laporan resmi di Pertempuran Jutlandia tahun 1916, mengoperasikan mesin yang jauh lebih rumit dari pintu lift.

Ratu Mary tidak sesejuk itu. Film menggambarkan istri George V, Ratu Mary, sebagai sosok yang jauh secara emosional dan dingin. Kenyataannya, ketika krisis abdikasi melanda, ke pangkuan ibulah Bertie pergi untuk menangis. Ia memang formal di hadapan publik, sebagaimana lazimnya bangsawan era itu, namun ia bukan ratu es seperti yang disuguhkan film.

Skor Akurasi Sejarah: 5/10

The King's Speech berhasil menangkap kebenaran emosional sambil salah dalam banyak hal historis yang sesungguhnya. Kisah inti seorang raja yang enggan naik takhta dan berhasil mengatasi hambatan bicara dengan bantuan seorang terapis yang tidak konvensional adalah nyata dan memukau. Namun linimasa yang dipadatkan, gagap yang dibesar-besarkan, posisi politik yang dibalik, dan adegan-adegan rekaan menjadikan film ini, seperti kata seorang kritikus, "pembuatan film yang brilian, sejarah yang kurang brilian."

Film ini tetaplah sebuah karya yang indah. Hanya saja, jangan sampai kamu mengira itu adalah dokumenter.

Sumber: The Daily Beast / Hankering for History / The Guardian / TIME

Debat Akurasi dengan Tokoh Aslinya

Tanya langsung kepada tokoh nyata apa yang salah digambarkan Hollywood tentang kehidupan mereka.

Ngobrol dengan Sejarah

Jangan lewatkan satu misteri pun

Dapatkan investigasi terbaru di kotak masukmu

Ulasan mendalam mingguan tentang kasus tak terpecahkan, Hollywood vs. sejarah, dan peradaban kuno. Tanpa spam. Bisa berhenti berlangganan kapan saja.