
Napoleon (2023) vs. Sejarah: Seberapa Akurat Film Epik Kontroversial Ridley Scott?
Akurasi sejarah Napoleon 2023: sejarawan Prancis menyebutnya 'meludahi wajah orang Prancis.' Kami memeriksa fakta Waterloo, Josephine, dan pilihan-pilihan Scott.
Ketika Ridley Scott merilis Napoleon pada November 2023, ia mungkin sudah menduga akan ada kontroversi. Yang didapatnya malah nyaris menjadi insiden diplomatik. Sejarawan Prancis menyebut film ini "seperti meludahi wajah orang Prancis." Akademisi Inggris melabelinya "tidak koheren, tergesa-gesa, tidak akurat." Dan ketika dihadapkan dengan kritik-kritik tersebut, Scott memberikan respons sutradara yang mungkin paling berkesan dalam sejarah sinema: "Kamu ada di sana? Tidak? Kalau begitu, diam."
Kata-kata yang berani dari pria yang membawa kita Gladiator. Tapi apakah pembelaan Scott itu tepat, atau apakah ia menciptakan padanan historis dari sebuah mimpi demam? Mari kita telaah akurasi sejarah Napoleon 2023 dan pisahkan fakta Napoleonik dari fiksi Hollywood.
Yang Benar Menurut Hollywood
Kebangkitan dari Ketidakjelasan Menuju Tahta Kaisar
Garis besar besar perjalanan Napoleon digambarkan dengan akurat. Ia memang muncul di tengah kekacauan Revolusi Prancis, bangkit dari keluarga bangsawan Korsika yang relatif kecil hingga menjadi Kaisar Prancis. Film ini dengan benar menampilkan perkembangannya dari perwira artileri, menjadi jenderal, lalu Konsul Pertama, hingga akhirnya Kaisar.
Manuver Penobatan yang Mengejutkan
Salah satu momen paling berkesan dalam film — Napoleon mengambil mahkota dari Paus Pius VII dan menobatkan dirinya sendiri — memang benar-benar terjadi. Pada 2 Desember 1804, di Katedral Notre-Dame, Napoleon merebut mahkota dan meletakkannya di kepalanya sendiri, melambangkan bahwa ia tidak berhutang kekuasaannya kepada siapa pun kecuali dirinya sendiri. Tindakan lancang ini mengejutkan Eropa dan sempurna merangkum ego Napoleon.
Hubungan Napoleon dan Joséphine
Kisah cinta sentral film ini sebagian besar berhasil menangkap dinamika emosionalnya dengan tepat. Joséphine memang lebih berpengalaman dalam pergaulan dunia dan urusan asmara dibanding Napoleon. Ia memang berselingkuh (sampai diberitakan di koran). Napoleon sangat hancur ketika harus menceraikanya karena ia tidak bisa memberikan pewaris. Hubungan mereka yang rumit, penuh gairah, dan berakhir tragis membentuk inti emosional film ini, dan inti tersebut secara historis bisa dipertanggungjawabkan.
Prajurit yang Tidak Mau Menembak
Ketika Napoleon melarikan diri dari Pulau Elba pada 1815, film ini menampilkan para prajurit yang dikirim untuk menangkapnya justru berseru dan bergabung bersamanya. Ini benar-benar terjadi. Karisma Napoleon sedemikian rupa sehingga ketika Resimen Infanteri ke-5 diperintahkan untuk menembaknya, ia konon berjalan seorang diri ke arah mereka dan berkata, "Jika ada di antara kalian yang ingin menembak Kaisarnya, lakukanlah sekarang." Tak satu pun peluru yang ditembakkan. Mereka justru bergabung bersamanya.
Kampanye Rusia yang Bencana
Film ini secara akurat menggambarkan invasi Napoleon yang dahsyat ke Rusia pada 1812 sebagai perang pengurasan yang menghancurkan Grande Armée-nya. Rusia menerapkan taktik bumi hangus, menolak memberi Napoleon pertempuran penentu yang ia inginkan. Dari sekitar 600.000 pria yang berbaris memasuki Rusia, kurang dari 100.000 yang berhasil kembali.
Formasi Persegi di Waterloo
Penasihat militer Paul Biddiss memastikan taktik pertempuran dalam film ini otentik. Formasi persegi infanteri Inggris yang digunakan untuk menghadapi kavaleri Prancis di Waterloo — dengan bayonet mengarah keluar untuk mengusir kuda — digambarkan dengan akurat. Sejarawan Dan Snow secara khusus memuji penggambaran formasi ini.
Yang Salah Menurut Hollywood
Menembaki Piramida
Dalam salah satu adegan paling mencolok secara visual dalam film, pasukan Prancis menembakkan meriam ke arah Piramida Agung Giza. Ini tidak pernah terjadi. Bahkan tidak mendekati kenyataan. Pertempuran Piramida (21 Juli 1798) bahkan tidak berlangsung di dekat piramida — piramida hanyalah latar yang terlihat dari kejauhan. Ketika penasihat sejarah Michael Broers menunjukkan hal ini kepada Scott, sang sutradara konon menjawab, "Tapi kamu tertawa, kan?"
Mitos bahwa prajurit Napoleon menembak hidung Sphinx juga salah — kerusakan itu sudah terdokumentasi jauh sebelum ekspedisi Napoleon.
Napoleon di Eksekusi Marie Antoinette
Film ini menampilkan Napoleon yang menyaksikan pemenggalan Marie Antoinette di Paris pada 16 Oktober 1793. Padahal, kenyataannya ia berada sekitar 840 kilometer jauhnya, memimpin pasukan di Pengepungan Toulon. Ini bukan sekadar perselisihan soal geografi — ia secara harfiah tidak mungkin berada di sana.
Bola Meriam dari Dalam Kuda Mati
Dalam sebuah adegan yang cukup grotesque, Napoleon merogoh ke dalam kuda matinya di Toulon untuk mengambil bola meriam yang membunuhnya. Menurut Profesor Michael Broers, "adegan itu tidak pernah terjadi dalam kehidupan nyata." Meski Napoleon memang pernah kehilangan kuda dalam pertempuran, tidak ada catatan tentang ia melakukan "operasi bedah" di medan perang pada bangkai kuda.
Napoleon Memimpin Serangan Kavaleri
Film ini menampilkan Napoleon secara pribadi memimpin serangan kavaleri ke medan pertempuran. Sejarawan Dan Snow segera membantah hal ini: "Ia tidak pernah memimpin serangan semacam itu." Napoleon adalah jenderal dan kaisar yang mengarahkan pertempuran dari belakang garis, bukan ksatria abad pertengahan yang terjun ke pertempuran.
Pertemuan dengan Wellington
Setelah Waterloo, film ini menampilkan Napoleon dan Duke of Wellington bertemu di atas kapal perang, memperlihatkan saling menghormati antara dua rival tersebut. Ini tidak pernah terjadi. Menurut Profesor Broers, "Napoleon tidak pernah bertemu Duke of Wellington." Persaingan legendaris mereka sepenuhnya dilakukan dari jarak jauh.
Usia Joaquin Phoenix
Ini mungkin tampak sepele, tapi secara visual mengganggu. Joaquin Phoenix berusia 47 tahun saat syuting. Napoleon menjadi jenderal di usia 20-an, menikahi Joséphine di usia 26, dan memimpin kampanye Mesir di usia 29. Film ini mencakup beberapa dekade kehidupan Napoleon dengan seorang aktor yang terlihat berusia sama sepanjang film — jauh lebih tua dari usia Napoleon selama peristiwa-peristiwa awal yang digambarkan.
Kalimat "Kamu Punya Kapal"
Ledakan kemarahan Napoleon kepada duta besar Inggris — "Kamu pikir kamu begitu kuat karena kamu punya kapal!" — adalah fiksi murni. Meski kalimat itu mencerminkan frustrasi Napoleonik terhadap keunggulan angkatan laut Inggris, ia tidak pernah benar-benar mengatakannya.
Sikap Marie Antoinette
Film ini menggambarkan Marie Antoinette sebagai sosok yang "tak gentar dan sedikit berani" saat eksekusinya. Sejarawan Prancis Dr. Estelle Paranque mencatat bahwa ia sebenarnya "sangat sedih dan rentan." Suaminya telah dieksekusi beberapa bulan sebelumnya, dan ia terpaksa menanggung putranya sendiri yang menuduhnya melakukan inses di persidangannya. Ratu yang bangga dalam film ini hampir tidak ada kemiripannya dengan wanita yang hancur yang sesungguhnya naik ke tangga guillotine.
Skor Akurasi Sejarah: 5/10
Napoleon karya Ridley Scott adalah sebuah kontradiksi yang membuat frustrasi. Busur naratif besarnya secara historis bisa dipertanggungjawabkan — kebangkitan Napoleon, pertempuran-pertempurannya, hubungannya dengan Joséphine, kejatuhannya. Namun detailnya penuh dengan rekaan, mulai dari pertemuan yang tidak pernah terjadi hingga kesaksian mata yang mustahil hingga penembakan artileri yang tidak pernah terjadi.
Pembelaan Scott yang terkenal — "Kamu ada di sana?" — bermasalah karena ia "meniadakan seluruh upaya pencarian pengetahuan sejarah," seperti yang dicatat sejarawan Guy Walters. Kita tidak perlu hadir di Pertempuran Waterloo untuk mengetahui bahwa Napoleon tidak secara pribadi bertemu Wellington setelahnya.
Film ini unggul sebagai tontonan. Adegan-adegan pertempurannya megah, kostumnya mewah, busur emosional antara Napoleon dan Joséphine sungguh menyentuh. Tapi sebagai sejarah? Ini lebih mendekati fiksi sejarah berbasis penggemar — mengambil karakter nyata dan peristiwa nyata, lalu membentuknya menjadi sesuatu yang lebih nyaman secara sinematik.
Cendekiawan Prancis Patrice Gueniffey mungkin mengatakannya dengan paling tepat: film ini adalah revisionisme yang "sangat anti-Prancis dan sangat pro-Inggris." Apakah itu penting bagimu bergantung pada apakah kamu menonton untuk hiburan atau edukasi.
Jika kamu ingin memahami siapa Napoleon sesungguhnya — bukan "anak laki-laki manja" yang digambarkan di layar — kamu mungkin perlu 400 buku yang Scott abaikan. Atau setidaknya sebuah dokumenter yang bagus. Film ini memberikanmu tontonan Napoleon. Substansinya? Kamu harus mencarinya di tempat lain.
Untuk film epik sejarah lain yang diperiksa faktanya berdasarkan catatan sejarah, lihat 300 vs. Sejarah tentang Pertempuran Thermopylae dan Braveheart vs. Sejarah tentang William Wallace — keduanya adalah film di mana tontonan sinematik melampaui ketelitian historis.
Debat Akurasi dengan Tokoh Aslinya
Tanya langsung kepada tokoh nyata apa yang salah digambarkan Hollywood tentang kehidupan mereka.
Ngobrol dengan SejarahJangan lewatkan satu misteri pun
Dapatkan investigasi terbaru di kotak masukmu
Ulasan mendalam mingguan tentang kasus tak terpecahkan, Hollywood vs. sejarah, dan peradaban kuno. Tanpa spam. Bisa berhenti berlangganan kapan saja.


