
Asal-usul: Siapa yang Menciptakan Tato
Tato setidaknya berusia 5.000 tahun, dibuktikan oleh tanda-tanda kulit yang terawetkan pada tubuh Otzi si Manusia Es, dan praktik ini muncul secara independen di Polinesia, Mesir, dan Asia.
Pada September 1991, dua pendaki asal Jerman di Pegunungan Alpen Otztal, di perbatasan Austria dan Italia, menemukan sesuatu yang mereka kira awalnya adalah manekin bekas yang mencuat dari es yang mencair. Ternyata itu adalah jasad manusia yang termumifikasi, yang kemudian diberi nama Otzi, yang telah membeku dan terawetkan dengan luar biasa selama sekitar 5.300 tahun. Ketika para peneliti memeriksa kulitnya dengan saksama, mereka menemukan sesuatu yang tak terduga: 61 tato berupa garis-garis paralel sederhana dan tanda silang kecil, ditorehkan di punggung bawah, pergelangan tangan, kaki, dan salah satu pergelangan kakinya. Otzi bukanlah penemu tato. Namun kulitnya yang membeku memberi para arkeolog bukti fisik terkonfirmasi tertua bahwa manusia telah menandai tubuh mereka secara permanen ribuan tahun sebelum praktik ini pernah dituliskan.
Tidak Ada Satu Penemu, Banyak Asal-usul yang Berdiri Sendiri
Berbeda dengan penemuan-penemuan yang punya satu sumber jelas, praktik menato tampaknya muncul secara independen di berbagai belahan dunia, sebuah pola yang masuk akal jika kita mempertimbangkan betapa sedikitnya peralatan khusus yang dibutuhkan untuk praktik ini. Sebuah ujung tajam, sedikit jelaga atau pigmen berbahan tumbuhan, dan kulit sudah cukup. Bukti arkeologis dan etnografis menunjuk pada setidaknya tiga tradisi yang sebagian besar berkembang terpisah: tradisi menato di Alpen dan Eurasia yang diwakili oleh Otzi, tradisi Polinesia yang memberi praktik ini nama modernnya, dan tradisi Mesir kuno yang terdokumentasi pada jasad-jasad yang termumifikasi. Ketiganya berkembang dengan sedikit atau bahkan tanpa kontak satu sama lain, yang sangat menunjukkan bahwa menato adalah salah satu teknik yang berulang kali ditemukan sendiri oleh manusia, bukan sesuatu yang menyebar dari satu titik penemuan tunggal.
Otzi si Manusia Es: Bukti Terkonfirmasi Tertua
Ke-61 tato Otzi, yang penanggalannya ditentukan lewat usia radiokarbon jasadnya sendiri sekitar 3300 SM, seluruhnya terdiri dari tanda-tanda geometris sederhana, yaitu kelompok garis paralel pendek dan beberapa tanda silang kecil, bukan gambar figuratif apa pun. Tato-tato ini dibuat dengan teknik yang melibatkan sayatan-sayatan kecil pada kulit lalu menggosokkan pigmen berbahan arang ke dalamnya, menghasilkan tato yang masih samar-samar terlihat setelah ribuan tahun membeku di dalam es.
Yang paling menarik perhatian para peneliti adalah letak tato-tato itu di tubuh Otzi. Sebagian besar berkumpul di sekitar tulang belakang bagian bawah, lutut, dan pergelangan kakinya, yaitu sendi-sendi yang menurut pemindaian CT scan dan analisis sinar-X kemudian menunjukkan tanda-tanda keausan degeneratif, radang sendi, dan tekanan yang sesuai dengan tuntutan fisik kehidupan di pegunungan Alpen. Kesesuaian ruang antara letak tato dan kerusakan sendi ini membuat banyak peneliti berpendapat bahwa tato Otzi bukanlah hiasan, melainkan bersifat terapeutik, semacam pengobatan rasa sakit ala akupunktur kuno, bukan simbol status atau pernyataan artistik. Jika tafsiran ini benar, itu menunjukkan bahwa salah satu penggunaan tato manusia yang terdokumentasi paling awal bersifat medis, bukan estetis, sebuah fungsi yang sangat berbeda dari cara kebanyakan orang mengenal tato saat ini.
Mesir: Tato Bergambar pada Mumi yang Terawetkan
Kira-kira sezaman dengan Otzi, praktik menato di Mesir kuno juga meninggalkan jejak fisiknya sendiri. Jasad-jasad termumifikasi yang ditemukan di Gebelein, Mesir Hulu, dan berasal dari sekitar 3350 hingga 3100 SM, memiliki tato yang jauh lebih rumit dibandingkan garis-garis sederhana Otzi: gambar banteng liar dan domba Barbary pada mumi laki-laki, serta serangkaian motif berbentuk huruf S dan simbol menyerupai tongkat pada mumi perempuan dari situs yang sama. Ini adalah tato figuratif tertua yang diketahui, yaitu gambar yang menampilkan hewan atau benda yang bisa dikenali, bukan sekadar tanda abstrak, dalam seluruh catatan arkeologi yang ada.
Sepanjang sebagian besar abad ke-20, tato Mesir yang kebanyakan ditemukan pada mumi perempuan, yang paling terkenal adalah seorang pendeta perempuan bernama Amunet dari sekitar 2000 SM, ditafsirkan oleh sejumlah arkeolog awal sebagai tanda yang berkaitan dengan prostitusi atau status sosial rendah. Kajian-kajian selanjutnya membantah keras tafsiran itu, dengan mencatat bahwa figurin bertato dan citra yang berkaitan dengan kesuburan, perlindungan saat melahirkan, dan pengabdian religius muncul di berbagai budaya material Mesir, yang menunjukkan bahwa tato kemungkinan besar membawa makna perlindungan atau ritual bagi perempuan yang memilikinya, bukan stigma. Tato hewan pada mumi-mumi Gebelein, yang baru ditemukan dan dianalisis menggunakan pencitraan inframerah dalam satu dekade terakhir, mendorong mundur catatan terkonfirmasi tato figuratif lebih jauh lagi dari yang sebelumnya didokumentasikan para peneliti, kembali mengubah gambaran yang ada.
Polinesia: Asal Kata Tato dan Tradisi yang Tetap Hidup
Meski Otzi dan mumi-mumi Gebelein mewakili bukti fisik tertua, kata "tato" sendiri berasal dari tradisi yang sama sekali berbeda: kata Polinesia "tatau," yang merujuk pada bunyi yang dihasilkan alat pengetuk tradisional yang digunakan untuk menyalurkan pigmen ke bawah kulit. Ekspedisi Kapten James Cook ke Tahiti dan kawasan Pasifik yang lebih luas pada akhir abad ke-18 pertama kali memperkenalkan kata ini, sekaligus praktiknya, kepada khalayak luas di Eropa, dan anak buah kapal Cook sendiri kembali ke Inggris dengan membawa tato di tubuh mereka, yang bisa dibilang memulai kaitan panjang antara tato dan para pelaut dalam budaya Barat.
Tradisi tato Polinesia, termasuk tatau Samoa, ta moko Maori, dan motif Marquesan, merupakan tradisi yang terdokumentasi dengan sangat baik dan terus dipraktikkan secara berkesinambungan, bukan sekadar direkonstruksi dari pecahan-pecahan arkeologis semata. Ta moko Maori, yang secara historis diaplikasikan menggunakan pahat tulang ukir alih-alih jarum, membawa makna genealogis dan sosial yang mendalam, dengan motif wajah yang berfungsi sebagai semacam catatan visual atas garis keturunan, kedudukan, dan pencapaian seseorang. Berbeda dengan bukti dari Mesir maupun Alpen, yang harus direkonstruksi belakangan dari jasad yang terawetkan, tradisi tato Polinesia berhasil bertahan dari penindasan kolonial dan tetap hidup hingga kini sebagai praktik yang diwariskan secara langsung dari generasi ke generasi seniman tato.
Kesenjangan Antara Mitos dan Catatan Sejarah
Kisah populer tentang sejarah tato terkadang menyederhanakan cerita multi-asal-usul ini menjadi sebuah narasi tunggal yang lebih sederhana, paling sering dengan hanya mengaitkan Polinesia sebagai sumber dari mana tato "menyebar" ke seluruh dunia setelah kontak dengan Eropa. Bukti fisik dari Otzi dan mumi-mumi Gebelein memperjelas bahwa tato sudah berusia ribuan tahun di berbagai wilayah jauh sebelum kontak antara Polinesia dan Eropa terjadi. Katanya berasal dari Pasifik. Praktiknya sendiri tidak.
Kesalahpahaman lain yang terus bertahan adalah anggapan bahwa tato selalu membawa makna sosial yang sama di mana pun ia muncul, entah sebagai penghormatan, pemberontakan, atau hukuman. Catatan sejarah justru menunjukkan hal sebaliknya: tato memiliki fungsi yang sangat berbeda-beda di berbagai budaya dan zaman, mulai dari pereda rasa sakit pada kasus Otzi, perlindungan ritual di Mesir, pencatatan garis keturunan di Polinesia, hingga penandaan hukuman bagi penjahat dan budak yang dipraktikkan di Romawi kuno dan Jepang, di mana tanda paksa di wajah atau lengan berfungsi sebagai hukuman permanen yang terlihat, bukan hiasan pilihan.
Dari Tanda Kriminal Menjadi Pernyataan Mode
Kaitan dengan hukuman itu bertahan sangat lama di dunia Barat. Sepanjang abad ke-19 dan sebagian besar abad ke-20, tato di Eropa dan Amerika Utara identik dengan pelaut, pemain sirkus, narapidana, dan kelas pekerja, sebuah stigma yang diperkuat oleh para kriminolog abad ke-19 seperti Cesare Lombroso, yang keliru berteori bahwa kecenderungan menato berkaitan dengan kecenderungan kriminal. Membuat tato yang terlihat sepanjang sebagian besar periode ini, bagi banyak orang, benar-benar merupakan risiko sosial dan profesional, bukan pilihan gaya.
Pergeseran menuju penerimaan arus utama terjadi secara bertahap sejak dekade 1970-an, seiring generasi baru seniman tato mulai memperlakukan praktik ini sebagai bentuk seni visual yang serius alih-alih sekadar keahlian kasar, dan melaju cepat sejak dekade 1990-an ketika tokoh-tokoh publik di dunia olahraga, musik, dan hiburan membuat tato yang terlihat semakin dianggap wajar, bukan lagi hal yang melanggar norma. Menjelang awal abad ke-21, tato telah mengalami salah satu pembalikan reputasi paling mencolok dalam sejarah modifikasi tubuh, berubah dari tanda bagi kaum terbuang menjadi, di banyak belahan dunia, bentuk ekspresi pribadi yang biasa saja dan diterima secara luas.
Kisah tato mencerminkan praktik hiasan tubuh dan wewangian-penampilan lain yang membawa makna sangat berbeda di sepanjang zaman yang mereka lalui, sebuah pola yang juga terlihat pada asal-usul parfum, yang juga bermula dari kaitannya dengan ritual dan status sebelum menjadi produk konsumen sehari-hari.
Jawaban Singkat
Pertanyaan umum seputar topik ini
Siapa yang menciptakan tato?
Tidak ada satu budaya pun yang menciptakan tato. Praktik ini muncul secara independen di berbagai wilayah, dengan bukti fisik tertua yang terkonfirmasi ditemukan pada Otzi si Manusia Es, jasad yang termumifikasi dari sekitar 3300 SM yang ditemukan di Pegunungan Alpen pada 1991, dengan 61 tato garis sederhana dan tanda silang di sekujur tubuhnya.
Apa tato tertua yang pernah ditemukan?
Tato milik Otzi si Manusia Es, yang berasal dari sekitar 3300 SM, lama dianggap sebagai tato terkonfirmasi tertua, meski mumi-mumi Mesir dari Gebelein, yang berasal dari periode serupa, sekitar 3350 hingga 3100 SM, memiliki tato bergambar hewan yang menurut sejumlah peneliti mungkin sama tuanya atau bahkan sedikit lebih tua.
Benarkah orang Mesir kuno memiliki tato?
Benar. Jasad-jasad yang termumifikasi dari Mesir kuno, termasuk yang ditemukan di Gebelein dan berasal dari sekitar 3350 hingga 3100 SM, memiliki tato hewan seperti banteng liar dan domba Barbary. Selama berabad-abad, tato yang ditemukan pada perempuan Mesir salah ditafsirkan oleh sejumlah arkeolog awal sebagai tanda status sosial rendah, sebuah asumsi yang kemudian dibantah oleh kajian-kajian selanjutnya.
Mengapa tato berubah dari tanda kriminal menjadi tren populer?
Di sebagian besar dunia Barat, tato identik dengan pelaut, penjahat, dan kelas pekerja sepanjang abad ke-19 hingga sebagian besar abad ke-20. Persepsi itu bergeser signifikan sejak dekade 1970-an seiring seni tato menjadi semakin profesional, para selebriti membuat tato yang terlihat jadi tren, dan penerimaan budaya yang lebih luas terhadap seni tubuh sebagai bentuk ekspresi diri semakin menguat pada awal 2000-an.
Tanya Langsung Sang Penemu
Ngobrol dengan orang-orang yang ada di sana saat hal-hal familiar ini bermula.
Telusuri ke Sumbernya

