
Glory vs. Sejarah: Seberapa Akurat Film Perang Saudara tentang Prajurit Kulit Hitam Ini?
Film Glory tahun 1989 meraih tiga Oscar dan mengubah cara Amerika mengingat Resimen ke-54 Massachusetts. Tapi apakah Hollywood benar-benar merekam kisah resimen itu dengan tepat? Kami memisahkan fakta dari fiksi.
Pada 1989, sutradara Edward Zwick merilis Glory, sebuah film yang secara mendasar mengubah pemahaman orang Amerika tentang Perang Saudara. Film ini menceritakan kisah Infanteri ke-54 Massachusetts, salah satu unit pertama orang Afrika-Amerika dalam Tentara Union, dan serangan legendaris mereka ke Fort Wagner. Film ini meraih tiga Academy Awards, termasuk Best Supporting Actor untuk Denzel Washington, dan telah diputar di ruang kelas di seluruh Amerika selama lebih dari tiga dekade.
Tapi seberapa banyak dari apa yang kita lihat di layar benar-benar terjadi?
Apa yang Benar Menurut Hollywood
Serangan ke Fort Wagner
Serangan klimaks ke Fort Wagner pada 18 Juli 1863 digambarkan dengan akurasi yang brutal. Resimen ke-54 memang dipaksa maju menyusuri jalur pantai sempit antara Samudra Atlantik dan rawa-rawa, langsung ke arah tembakan Konfederasi. Waktu senja yang ditampilkan dalam film sesuai dengan catatan sejarah — serangan dimulai saat senja.
Hasilnya pun tergambar dengan tepat dan tragis: serangan itu gagal. Kolonel Robert Gould Shaw terbunuh memimpin anak buahnya melewati tembok benteng. Resimen ini menderita hampir 50% korban. Pasukan Konfederasi memang menguburkan Shaw dalam kuburan massal bersama prajuritnya, dengan maksud menghinakannya. Ayah Shaw merespons dengan kata-kata yang ditangkap film ini: ia tidak ingin jenazah anaknya dipindahkan dari antara prajurit "yang berani dan berdedikasi" itu.
Perlakuan Rasis yang Mereka Hadapi
Film ini secara akurat menggambarkan diskriminasi yang dihadapi resimen ke-54. Prajurit kulit hitam memang diberi perlengkapan yang buruk dan ditugaskan untuk kerja kasar, bukan pertempuran. Ketimpangan gaji yang digambarkan dalam film adalah nyata — prajurit kulit hitam dibayar 10 dolar per bulan dengan potongan 3 dolar untuk pakaian, sementara prajurit kulit putih menerima 13 dolar tanpa potongan pakaian.
Boikot gaji Shaw memang terjadi. Ia mendorong anak buahnya untuk menolak semua upah sampai Kongres mengubah undang-undang, yang akhirnya terjadi pada Juni 1864. Namun film menampilkan Prajurit Trip (karakter Washington) yang memimpin protes ini, padahal Shaw-lah yang memulainya.
Latar Belakang Kolonel Shaw
Shaw memang lahir dari keluarga abolisionis terkemuka di Boston. Orang tuanya, Francis dan Sarah, adalah reformis kaya yang terhubung dengan gerakan Transcendentalist. Film ini dengan tepat menggambarkan masa kecilnya yang istimewa dan dinas militernya sebelumnya — ia memang veteran Cedar Mountain dan Antietam sebelum mengambil komando resimen ke-54.
Signifikansi Historis
Film ini secara akurat menangkap mengapa resimen ke-54 begitu penting. Penampilan mereka di Fort Wagner menjawab para skeptis yang bertanya, "Apakah orang Negro mau bertempur?" Keberanian resimen ini membantu meyakinkan Union untuk merekrut sekitar 180.000 prajurit Afrika-Amerika selama perang.
Apa yang Salah Menurut Hollywood
Prajurit Resimen ke-54 BUKAN Mantan Budak
Inilah penyimpangan terbesar film ini dari sejarah. Glory tersirat bahwa resimen ini terutama terdiri dari mantan budak dan pria berpendidikan rendah dari Selatan. Kenyataannya justru sebaliknya.
Gubernur John Andrew ingin resimen ke-54 menjadi unit elite. Ia secara khusus tidak menerima budak yang melarikan diri. Hampir semua pria bisa membaca dan menulis. Sebagian besar adalah orang Utara yang lahir bebas dengan latar belakang profesional — juru tulis, petani, guru, pengrajin.
Dua putra Frederick Douglass — Lewis dan Charles — termasuk di antara yang pertama mendaftarkan diri. Lewis menjadi sergeant major, jabatan dengan tanggung jawab besar. Cucu Sojourner Truth, James Caldwell, bertugas dalam resimen itu. First Sergeant Robert Simmons sebelumnya pernah bertugas di Tentara Inggris. Mereka adalah pria terdidik yang telah bebas sepanjang hidup mereka.
Hanya sekitar seperempat dari resimen yang lahir di negara bagian perbudakan, dan sebagian lebih kecil lagi yang benar-benar pernah mengalami perbudakan.
Karakter Utama Hampir Semuanya Fiktif
Meskipun Kolonel Shaw adalah tokoh nyata, hampir setiap prajurit bernama dalam film ini adalah rekaan:
- Trip (Denzel Washington): Tidak ada dasar historisnya. Budak yang melarikan diri dengan sikap pemberontak dan penuh amarah ini diciptakan untuk mendramatisir pengalaman perbudakan.
- John Rawlins (Morgan Freeman): Fiktif. Penggali kubur yang bijaksana dan bermartabat yang kemudian menjadi sergeant major tidak pernah ada. Sergeant major yang sesungguhnya adalah Lewis Douglass, putra terdidik Frederick Douglass yang lahir bebas.
- Thomas Searles (Andre Braugher): Teman masa kecil Shaw? Sepenuhnya karangan. Tidak ada catatan bahwa Shaw memiliki hubungan semacam itu.
- Jupiter Sharts (Jihmi Kennedy): Karakter fiktif yang mewakili orang yang diperbudak dari Selatan Dalam.
Penerimaan Komando oleh Shaw
Film menunjukkan Shaw menerima komando di sebuah pesta makan malam mewah dan langsung menerimanya. Kenyataannya lebih kompleks dan lebih menarik.
Shaw sebenarnya sedang bersama resimensnya ketika ayahnya membawa surat dari Gubernur Andrew. Ia bergumul dengan keputusan itu selama beberapa hari, awalnya menolaknya. Ia enggan meninggalkan rekan-rekannya di Resimen ke-2 Massachusetts untuk sebuah resimen yang ia ragukan akan pernah turun ke medan perang. Ia akhirnya menerima sebagian karena ingin menyenangkan ibunya yang merupakan seorang abolisionis — bukan karena antusias serta-merta.
Keraguan ini tentu saja akan menghadirkan karakter yang lebih bernuansa di layar.
Adegan Latihan Semangka
Adegan berkesan di mana Shaw memotong deretan semangka untuk mengajarkan latihan bayonet? Secara simbolis kuat, tapi secara historis mustahil. Resimen itu berlatih di Massachusetts dari Februari hingga Mei — semangka tidak tersedia di New England pada musim dingin dan musim semi.
Film Ini Mengabaikan Resimen Kulit Hitam Lainnya
Resimen ke-54 Massachusetts bukan unit Afrika-Amerika pertama dalam Tentara Union. Beberapa resimen kulit hitam lain sudah lebih dulu dibentuk dan digunakan secara diam-diam untuk menguji kemampuan mereka. Beberapa mendapat pujian atas keberanian di medan perang pada Mei dan Juni 1863 — sebelum Fort Wagner. Film ini menyajikan resimen ke-54 sebagai satu-satunya eksperimen, yang terlalu membesar-besarkan keunikan mereka.
Apa yang Terjadi Setelah Wagner
Glory berakhir dengan serangan yang gagal, namun kisah resimen ke-54 berlanjut. Pada Februari 1864, resimen itu menjalankan aksi barisan belakang yang heroik dalam Pertempuran Olustee di Florida, melindungi pasukan Union yang mundur. Film ini tidak menyinggung keterlibatan penting ini maupun dinas resimen yang berlanjut hingga akhir perang.
Putusan
Skor Akurasi Historis: 6/10
Glory adalah sebuah paradoks. Film ini benar dalam gambaran besarnya, namun hampir menciptakan semua yang ada di latar depan. Serangan ke Fort Wagner digambarkan dengan akurat secara sinematik. Rasisme yang dihadapi prajurit kulit hitam digambarkan dengan jujur. Signifikansi historis resimen ke-54 disampaikan dengan tepat.
Namun pria-pria di layar hampir tidak menyerupai pria-pria yang sebenarnya bertugas. Film ini menciptakan narasi tentang budak yang melarikan diri untuk membuktikan kemanusiaan mereka, padahal kenyataannya adalah pria kulit hitam yang terdidik dan lahir bebas yang berjuang demi prinsip-prinsip yang telah mereka pelajari dan perdebatkan sepanjang hidup mereka. Kedua kisah itu kuat — namun keduanya adalah kisah yang berbeda.
Sutradara Edward Zwick telah mengakui ketegangan ini. Ia tidak ingin membuat "sebuah kisah kulit hitam dengan pahlawan kulit putih yang lebih nyaman secara komersial," namun karakter-karakter yang diciptakan akhirnya menggantikan orang-orang nyata yang kisah sebenarnya sama-sama menarik dengan tokoh fiktif tersebut.
Glory tetap bernilai sebagai film yang memperkenalkan jutaan orang pada sejarah yang tidak pernah mereka pelajari di sekolah. Film ini mengubah percakapan tentang prajurit kulit hitam dalam Perang Saudara. Untuk itu, film ini pantas mendapat tempat dalam sejarah sinema.
Namun resimen ke-54 Massachusetts yang sesungguhnya — putra-putra Frederick Douglass, cucu Sojourner Truth, mantan prajurit Inggris yang terbunuh beberapa hari setelah keponakannya tewas dalam Kerusuhan Wajib Militer New York — kisah mereka masih menantikan filmnya sendiri.
Memorial Augustus Saint-Gaudens untuk Shaw dan resimen ke-54 Massachusetts berdiri di Boston Common, tepat di seberang Gedung Negara Massachusetts. Dibutuhkan 14 tahun untuk membuatnya dan diresmikan pada 1897. Memorial ini tetap menjadi salah satu karya patung publik terbaik dalam seni Amerika.
Debat Akurasi dengan Tokoh Aslinya
Tanya langsung kepada tokoh nyata apa yang salah digambarkan Hollywood tentang kehidupan mereka.
Ngobrol dengan SejarahJangan lewatkan satu misteri pun
Dapatkan investigasi terbaru di kotak masukmu
Ulasan mendalam mingguan tentang kasus tak terpecahkan, Hollywood vs. sejarah, dan peradaban kuno. Tanpa spam. Bisa berhenti berlangganan kapan saja.


