BerandaSemua Cerita
Kejahatan & Rahasia
Malapetaka & Takdir
Legenda & Rival
Sejarah yang Hidup
Coba Aplikasinya
Kematian Putra Mahkota Sado: Raja Korea yang Mengunci Anaknya dalam Peti Beras
4 Jul 2026Skandal Kerajaan6 menit baca

Kematian Putra Mahkota Sado: Raja Korea yang Mengunci Anaknya dalam Peti Beras

Seorang raja Korea mengurung pewaris takhtanya sendiri di dalam peti beras kayu pada 1762. Inilah yang sebenarnya diungkap catatan istana tentang apa yang terjadi, dan alasannya.

Pada awal musim panas 1762, Raja Yeongjo dari Dinasti Joseon Korea memerintahkan putranya sendiri, sang putra mahkota dan pewaris takhta, dikurung di dalam sebuah peti beras kayu besar di halaman istana dan dibiarkan di sana hingga meninggal. Ini adalah salah satu tindakan disiplin paling aneh dan paling kejam yang pernah dilakukan seorang raja yang berkuasa terhadap pewaris takhtanya sendiri, dan dilakukan di hadapan istana kerajaan yang sebagian besar hanya menyaksikan tanpa berkata apa-apa. Menurut kebanyakan catatan, hal itu berlangsung sekitar delapan hari.

Korea menyebutnya Insiden Imo, dinamai berdasarkan tahun dalam sistem penanggalan siklus enam puluh tahun tradisional. Di luar Korea, peristiwa ini sering muncul dengan sebutan "pangeran peti beras," detail yang begitu mengerikan hingga terdengar seperti rekaan untuk layar televisi. Namun ini bukan rekaan. Yang diperdebatkan selama dua setengah abad adalah mengapa seorang ayah tega melakukan ini kepada satu-satunya pewaris langsungnya yang masih hidup, dan apa sebenarnya yang telah dilakukan sang putra hingga memicu hal ini.

Situasi istana: sebuah dinasti yang cemas akan legitimasinya sendiri

Yeongjo naik takhta Joseon pada 1724, setelah kematian saudara tirinya, Raja Gyeongjong, kematian yang menurut bisik-bisik orang sezamannya, tanpa pernah terbukti, mungkin tidak sepenuhnya alami. Ibu kandung Yeongjo sendiri adalah seorang pelayan istana berstatus rendah, bukan wanita dari kalangan bangsawan, asal-usul yang membuatnya selamanya sensitif terhadap klaimnya atas takhta di sebuah istana yang menjunjung garis keturunan di atas hampir segalanya. Ia menjawab kegelisahan itu dengan cara yang dilakukan banyak penguasa yang cemas: disiplin pribadi yang tanpa henti, etos kerja yang obsesif, dan ekspektasi yang menjulang bagi putra yang diharapkan membuktikan legitimasi dinasti setelahnya.

Sado, lahir pada 1735, adalah putra itu, diangkat menjadi putra mahkota sejak bayi setelah seorang kakak tirinya meninggal di masa kanak-kanak. Ia tumbuh menjadi pusat ambisi ayahnya sekaligus sasaran amarah ayahnya, dalam kadar yang kurang lebih setara. Yeongjo terus-menerus menceramahinya, mempermalukannya di depan para pejabat istana, dan menurut kebanyakan catatan sezaman, menuntutnya mencapai standar kesempurnaan akademik dan seremonial yang akan membebani siapa pun, apalagi seorang anak yang dibesarkan hampir seluruhnya di dalam tembok istana.

Istana itu sendiri juga terbelah menjadi faksi-faksi yang saling bersaing, terutama partai Noron dan Soron, yang perseteruan panjang mereka soal suksesi kerajaan dan kebijakan membentuk hampir segala hal yang terjadi di istana. Simpati Sado, dan kecurigaan ayahnya terhadap simpati itu, sering disebut sebagai bagian dari latar belakang politik atas apa yang kemudian terjadi, meski seberapa besar politik faksi benar-benar mendorong keputusan Yeongjo, dibandingkan sekadar menyediakan bahasa yang kemudian dipakai untuk membenarkannya, masih diperdebatkan secara serius di kalangan sejarawan.

Para tokoh

Dua orang berada di pusat kisah ini: Yeongjo, seorang raja yang sudah menua, keras, dan pada 1762 tampak jelas paranoid, dan Sado, putra dewasanya sekaligus pewaris takhta, sudah menikah dan memiliki anak, serta perilakunya semakin tidak menentu. Istri Sado, Lady Hyegyeong, menempati posisi yang tidak biasa dalam kisah ini. Ia hidup lebih lama daripada suaminya maupun mertuanya yang memerintah lama, dan kemudian menulis catatan paling lengkap yang bertahan tentang apa yang terjadi, sebuah memoar yang dikenal sebagai Hanjungnok, kadang diterjemahkan sebagai Memoar Lady Hyegyeong. Putranya bersama Sado masih anak kecil ketika ayahnya meninggal. Ia kelak menjadi Raja Jeongjo, salah satu raja Joseon yang paling dihormati, yang hingga kini masih diajarkan di Korea sebagai arsitek era keemasan ilmu pengetahuan dan reformasi.

Skandal itu: apa yang dikatakan catatan sejarah

Menjelang usia dua puluhan, Sado sudah menunjukkan perilaku yang meresahkan istana. Memoar Lady Hyegyeong menggambarkan kecemasan melumpuhkan setiap kali harus berpakaian, begitu parahnya hingga menyiapkan satu setel jubah seremonial bisa memerlukan puluhan kali percobaan, dan para pelayan yang membuatnya tidak puas selama proses itu terkadang dipukuli atau bahkan dibunuh. Memoar itu dan catatan istana berikutnya menggambarkan serangkaian insiden kekerasan, kepergian tanpa izin ke luar area istana, dan pola perilaku yang saat ini kemungkinan besar akan memicu diagnosis kejiwaan, meski mendiagnosis secara retrospektif seorang pria yang meninggal pada 1762 tak lebih dari sekadar tebakan yang dibungkus istilah medis.

Pada musim panas 1762, Yeongjo memanggil putranya, menuduhnya secara terbuka berperilaku yang tidak pantas bagi calon raja, dan memerintahkannya untuk masuk ke dalam sebuah peti kayu besar yang biasa dipakai menyimpan beras. Menurut catatan Lady Hyegyeong, Sado mula-mula menolak, lalu menurut. Peti itu disegel. Para pejabat konon memohon kepada sang raja agar mengurungkan niatnya. Ia menolak. Sado meninggal di dalam peti itu kira-kira delapan hari kemudian, di tengah musim panas Korea, karena kehausan, panas, dan kelaparan.

Catatan resmi istana mencatat peristiwa ini dengan bahasa yang sangat ringkas dan eufemistis, hanya menegaskan bahwa sang putra mahkota meninggal atas perintah kerajaan tanpa merinci bagaimana caranya dalam catatan resmi negara yang permanen. Selama beberapa dekade setelahnya, membicarakan insiden ini secara terbuka di istana membawa risiko politik yang nyata, salah satu alasan mengapa memoar Lady Hyegyeong yang lebih terus terang belakangan menjadi sumber yang begitu berharga. Memoar itu mengisi apa yang sengaja disembunyikan oleh catatan resmi.

Gosip versus catatan sejarah

Gunjingan istana pada tahun-tahun berikutnya menggelembungkan hampir setiap angka yang terkait dengan kasus ini. Sejumlah versi cerita menyebutkan jumlah korban tewas akibat episode-episode kekerasan Sado mencapai ratusan orang. Para sejarawan yang telah menelaah catatan yang tersisa umumnya memandang angka itu sebagai cerita rakyat, sambil sepakat bahwa Sado kemungkinan besar memang membunuh sejumlah pelayan dan abdi istana selama episode-episode terburuknya, kemungkinan puluhan orang, bukan ratusan, meski jumlah pastinya mustahil dipastikan. Rumor juga lama beredar bahwa Yeongjo bertindak semata-mata karena perhitungan politik faksi, menyingkirkan seorang pangeran yang disukai partai lawan. Catatan yang terdokumentasi mendukung ketegangan faksi sebagai tekanan nyata atas keputusan itu, tetapi bukan sebagai satu-satunya penyebab. Catatan Lady Hyegyeong sendiri justru membingkainya sebagai tragedi gangguan jiwa, kekejaman seorang ayah, dan ketakutan politik yang saling memakan satu sama lain hingga tak seorang pun di istana bisa melihat jalan keluar.

Satu detail yang terdokumentasi dengan baik, dan sering dilewatkan begitu saja dalam penceritaan yang lebih sensasional, adalah metode itu sendiri. Seorang putra mahkota yang secara resmi dinyatakan bersalah dan dieksekusi akan mencemari garis keturunannya secara hukum, berpotensi mendiskualifikasi putranya yang masih kecil dari pewarisan takhta kelak. Mengurung Sado di dalam peti, membiarkannya meninggal karena kekurangan makanan dan kehausan alih-alih melalui pedang, dan tidak pernah mengeluarkan tuduhan resmi pengkhianatan, secara luas dibaca para sejarawan sebagai cara yang diperhitungkan bagi Yeongjo untuk menyingkirkan putranya sekaligus menjaga hak cucunya atas suksesi. Apa pun itu, ini tidak terlihat seperti tindakan yang impulsif.

Dampaknya

Sado meninggal, dan dalam hitungan minggu Yeongjo memberikan kepada putranya yang telah tiada itu nama anumerta Sado, aksara yang kurang lebih berarti "yang harus diratapi," sebuah gestur duka yang meresahkan dari orang yang telah memerintahkan pembunuhannya. Lady Hyegyeong tetap hidup, membesarkan putranya, dan akhirnya menulis memoar yang melestarikan kisah ini bagi generasi berikutnya, merevisi dan melunakkan sebagian isinya pada berbagai titik dalam hidupnya, tergantung seberapa aman rasanya untuk berterus terang saat itu.

Putra Sado naik takhta pada 1776 sebagai Raja Jeongjo. Ia tidak pernah bisa secara terbuka mempersoalkan kembali kematian ayahnya tanpa menuduh kakeknya sendiri, sehingga protokol istana secara resmi mencatatnya sebagai pewaris seorang paman yang telah meninggal di masa kanak-kanak, sebuah fiksi hukum yang memungkinkannya mewarisi takhta tanpa nasib ayah kandungnya tercatat dalam dokumen resmi. Namun secara pribadi, Jeongjo menghabiskan sebagian besar masa pemerintahannya untuk menghormati kenangan Sado, membangun makam ayahnya menjadi kompleks besar dan mendirikan kota baru Suwon sebagian agar kota itu bisa berdiri di dekatnya. Jeongjo kemudian menjadi salah satu raja Joseon yang paling dikagumi, seorang pembaru yang keilmuan dan pemerintahannya masih dipelajari di Korea hingga kini, yang membuat kisah peti beras itu bukan sekadar catatan kaki dalam kisahnya, melainkan bab pembuka yang kelam.

Kisah ini memiliki kehidupan panjang dalam budaya populer Korea, paling menonjol lewat film tahun 2015 yang diakui secara luas, "The Throne," yang mendramatisasi bulan-bulan terakhir antara ayah dan anak di dalam tembok istana. Drama sejarah Korea sering kembali mengangkat istana Joseon, tetapi Insiden Imo tetap menjadi salah satu dari sedikit skandal kerajaan yang begitu kelam sehingga tidak pernah butuh dibumbui sama sekali.

Jawaban Singkat

Pertanyaan umum seputar topik ini

Benarkah seorang raja Korea mengunci anaknya sendiri dalam peti beras?

Benar. Pada musim panas 1762, Raja Yeongjo dari Dinasti Joseon Korea memerintahkan putra sekaligus pewaris takhtanya, Putra Mahkota Sado, dikurung di dalam sebuah peti beras kayu besar, tempat ia meninggal kira-kira delapan hari kemudian karena kehausan dan kelaparan. Peristiwa ini tercatat, dengan bahasa yang berhati-hati, dalam catatan resmi istana, dan dijelaskan jauh lebih rinci dalam memoar Lady Hyegyeong. Orang Korea menyebutnya Insiden Imo.

Mengapa Yeongjo tidak langsung mengeksekusi putranya saja?

Seorang putra mahkota yang secara resmi dinyatakan bersalah atas pengkhianatan dan dieksekusi akan mencemari garis keturunannya secara hukum, kemungkinan besar menghalangi putranya sendiri untuk mewarisi takhta. Dengan membuat Sado meninggal karena kekurangan makanan dan air di dalam peti yang tersegel, bukan melalui eksekusi resmi, Yeongjo menghindari tuduhan pengkhianatan dan menjaga hak cucunya untuk menggantikannya kelak.

Benarkah Putra Mahkota Sado memang mengalami gangguan jiwa?

Memoar Lady Hyegyeong menggambarkan gejala yang parah dan terus memburuk, termasuk kecemasan melumpuhkan setiap kali harus berpakaian dan letupan amarah yang berujung kekerasan terhadap para pelayan, yang oleh banyak sejarawan dibaca sebagai gangguan jiwa serius. Diagnosis retrospektif zaman modern pada dasarnya bersifat spekulatif, tetapi pola perilaku yang tercatat itu sudah meresahkan istana selama bertahun-tahun sebelum kematiannya.

Apa yang terjadi pada putra Sado setelah kematian ayahnya?

Putra Sado naik takhta pada 1776 sebagai Raja Jeongjo dan menjadi salah satu raja pembaru Dinasti Joseon yang paling dihormati. Ia menghormati kenangan ayahnya sepanjang masa pemerintahannya, termasuk membangun kompleks makam yang megah, meski protokol istana mengharuskan ia secara resmi tercatat sebagai pewaris seorang paman, bukan pewaris Sado.

Panggil Sidang Istana

Ngobrol dengan raja, ratu, dan bangsawan istana di pusat skandal ini.

Masuk ke Istana

Gabung HistorIQly Club

Jadilah lebih cerdas soal masa lalu.

Cerita mingguan, ulasan mendalam, dan konten eksklusif langsung ke kotak masukmu.

Tanpa spam. Bisa berhenti kapan saja.