BerandaSemua Cerita
Kejahatan & Rahasia
Malapetaka & Takdir
Legenda & Rival
Sejarah yang Hidup
Coba Aplikasinya
Turun Takhta Edward VIII: Raja yang Merelakan Mahkota demi Wallis Simpson
4 Jul 2026Skandal Kerajaan6 menit baca

Turun Takhta Edward VIII: Raja yang Merelakan Mahkota demi Wallis Simpson

Bagaimana cinta seorang raja kepada wanita Amerika yang bukan bangsawan dan sudah dua kali bercerai memicu krisis konstitusi yang merenggut takhtanya hanya dalam setahun.

Sepanjang sebagian besar tahun 1936, pemerintah Inggris Raya, pers Amerika, dan keluarga sang raja sendiri sama-sama mengetahui sesuatu yang tidak diketahui publik Inggris: raja baru mereka ingin menikahi seorang wanita yang dianggap kalangan mapan sama sekali tidak pantas. Ketika kabar itu akhirnya pecah di media Inggris pada awal Desember, negara itu hanya punya waktu sedikit lebih dari seminggu untuk mencerna krisis yang sebenarnya sudah terbangun bertahun-tahun. Pada 11 Desember, Edward VIII sudah bukan raja lagi.

Situasi istana

Edward menjadi Raja pada 20 Januari 1936, setelah kematian ayahnya, George V, usai hampir 26 tahun menjadi pewaris takhta. Sebagai Pangeran Wales, ia adalah pria yang paling banyak difoto di seluruh Kekaisaran Britania, sosok yang benar-benar populer, yang mengunjungi wilayah-wilayah koloni, membela nasib para penganggur di masa Depresi, dan bagi banyak orang tampak seperti kekuatan pembaru bagi monarki yang masih dibentuk oleh formalitas kaku ayahnya.

Taruhannya bukan hanya soal pribadi. Sebagai raja, Edward juga akan menjadi Gubernur Tertinggi Gereja Inggris, sebuah institusi yang saat itu tidak mengakui pernikahan ulang setelah perceraian selama mantan pasangan masih hidup. Ia juga kepala negara Persemakmuran yang, berdasarkan Statuta Westminster 1931, berarti perubahan apa pun pada aturan suksesi atau pernikahan raja memerlukan persetujuan pemerintah negara-negara Dominion, bukan hanya Westminster. Pernikahan seorang raja bukan urusan pribadi. Secara konstitusional, itu urusan semua orang.

George V dikabarkan pernah mengkhawatirkan secara terbuka, sebelum wafat, bahwa putra sulungnya tidak akan bisa hidup mapan dan mungkin akan merusak kehormatan monarki yang telah dijaga dengan hati-hati, hanya dalam setahun setelah naik takhta. Para punggawa di sekitar Edward sudah bertahun-tahun mencatat bahwa ia jengah dengan rutinitas administratif jabatan raja, lebih memilih golf dan klub malam ketimbang kotak-kotak dokumen negara, dan memperlakukan sisi formal jabatannya sebagai kewajiban yang harus ditanggung, bukan dirangkul. Tak satu pun dari itu sendirian akan mengakhiri sebuah pemerintahan. Digabungkan dengan isu pernikahan, itu memberi para pengkritiknya di pemerintahan sebuah alasan yang jauh melampaui urusan asmara.

Para tokoh

Hubungan Edward dengan Wallis Simpson berkembang sejak awal 1930-an. Wallis adalah wanita Amerika asal Pennsylvania, sudah sekali bercerai dari seorang penerbang Angkatan Laut AS, dan saat itu menikah dengan suami keduanya, Ernest Simpson, seorang pebisnis Anglo-Amerika. Ia dan Edward bergaul di lingkaran sosial yang sama selama bertahun-tahun sebelum hubungan mereka semakin dalam, dan pada pertengahan 1930-an ia sudah menjadi sosok tetap di acara-acara pribadi Edward, mula-mula sebagai salah satu tamu di antara banyak tamu di pesta rumah akhir pekan, dan kemudian sebagai wanita yang mengurus rumah tangganya dalam segala hal kecuali status resminya.

Ratu Mary, ibu Edward, dan sebagian besar anggota keluarga kerajaan lainnya sejak awal jelas-jelas menunjukkan ketidaksetujuan mereka terhadap Wallis, memandang seorang wanita Amerika yang sudah bercerai sekali dan masih menikah dengan pria lain sebagai sosok yang sama sekali tidak pantas memiliki hubungan dekat dengan pewaris takhta, apalagi dengan raja. Ketidaksetujuan itu justru semakin keras, bukan melunak, begitu Edward naik takhta dan menyatakan niatnya secara terang-terangan.

Perdana Menteri Stanley Baldwin menjadi tokoh sentral di pihak pemerintah, bertugas mengelola seorang raja yang semakin ia pandang tidak cocok dengan batasan-batasan jabatan itu. Winston Churchill, saat itu anggota parlemen biasa tanpa kekuasaan menteri, membela perjuangan Edward dan berargumen agar keputusan ditunda, sikap yang justru merusak reputasinya sendiri saat itu. Ketiga adik Edward, Albert, Duke of York, Henry, Duke of Gloucester, dan George, Duke of Kent, menyaksikan krisis ini berlangsung sambil menyadari bahwa yang tertua di antara mereka pada akhirnya akan mewarisi apa pun yang ditinggalkan Edward, entah bagaimana caranya.

Skandal itu

Surat kabar Amerika dan Eropa daratan sudah lama meliput hubungan sang Raja dengan Wallis Simpson jauh sebelum pembaca Inggris membaca sepatah kata pun tentangnya. Para editor Inggris menjaga kebisuan yang mereka sepakati sendiri soal cerita ini, semacam kesepakatan tak tertulis yang bertahan bertahun-tahun sekalipun gosip beredar di setiap lapisan masyarakat yang berpengaruh. Bendungan itu jebol pada awal Desember 1936, setelah pernyataan publik seorang uskup tentang perlunya sang Raja mendapat rahmat Tuhan secara luas ditafsirkan sebagai sindiran tersamar untuk hubungan itu, meski sang uskup sendiri kemudian membantah maksud tersebut. Begitu satu surat kabar mencetak kaitan itu, yang lain menyusul dalam hitungan hari.

Pada saat itu, krisis yang sesungguhnya sudah jauh berkembang di balik pintu tertutup. Wallis telah memulai proses perceraian dari Ernest Simpson pada musim gugur itu, membuka jalan baginya untuk akhirnya menikahi Edward. Baldwin menyampaikan secara terus terang kepada Raja bahwa pemerintah tidak akan menerima Wallis sebagai ratu. Sebuah kompromi yang diajukan, yaitu pernikahan morganatik di mana Wallis akan menjadi istri Edward tetapi bukan ratu, dan anak-anak mereka tidak akan berhak atas takhta, ditolak mentah-mentah oleh Kabinet maupun para perdana menteri negara Dominion yang dikonsultasikan Baldwin. Edward pada dasarnya diberi satu pilihan: melepaskan Wallis, atau melepaskan mahkota.

Wallis sendiri melarikan diri ke Prancis selatan saat badai pers semakin menghebat dan konon menawarkan diri untuk mundur dari hubungan itu demi mengakhiri krisis. Itu tidak mengubah apa pun. Edward sudah memutuskan pilihannya.

Gosip versus catatan sejarah

Versi publik dari peristiwa ini, disampaikan Edward sendiri dalam siaran radio pengunduran dirinya pada malam 11 Desember 1936, sederhana dan langsung terkenal: ia tidak sanggup memikul beban takhta "tanpa bantuan dan dukungan wanita yang saya cintai." Kalimat itu sejak saat itu membentuk ingatan publik tentang pengunduran diri ini, sebagai sebuah pengorbanan romantis.

Catatan sejarah yang terdokumentasi jauh lebih rumit. Baldwin dan para menterinya memang punya kekhawatiran nyata dan sudah lama terpendam soal watak Edward, sikapnya yang santai terhadap dokumen-dokumen negara, dan simpatinya, yang oleh sebagian kalangan pemerintah dianggap terlalu hangat, terhadap Jerman Nazi. Apakah krisis pernikahan itu benar-benar alasan penyingkirannya atau sekadar dalih paling rapi yang tersedia bagi pemerintah yang memang sudah ingin menyingkirkannya, masih diperdebatkan para sejarawan, dan sumber-sumber mengenai musyawarah internal pemerintah tidak memberi kepastian ke arah mana pun.

Ada pula desas-desus yang terus bertahan seputar Wallis Simpson sendiri, termasuk tuduhan adanya hubungan dekat, atau lebih dari itu, dengan Joachim von Ribbentrop, duta besar Jerman untuk Inggris pada pertengahan 1930-an. Intelijen Inggris konon menyimpan berkas tentang pergaulannya. Hal ini tidak pernah terbukti sebagai fakta dalam dokumen resmi yang masih tersimpan, dan sepenuhnya termasuk kategori rumor zaman itu ketimbang sejarah yang terbukti, tetapi itu memperkuat kecurigaan pada masanya bahwa pengaruh Wallis terhadap Raja meluas melampaui asmara hingga ke ranah politik.

Dampaknya

Edward menandatangani Instrument of Abdication di Fort Belvedere pada 10 Desember 1936, disaksikan ketiga adiknya. Parlemen mengesahkan His Majesty's Declaration of Abdication Act keesokan harinya, dan siaran Edward malam itu mengonfirmasi kepada publik apa yang sudah diputuskan secara pribadi. Adiknya, Albert, menjadi Raja George VI, mewarisi tanggal penobatan yang sudah ditetapkan untuk Mei 1937, yang tetap berlangsung dengan raja yang berbeda.

Edward diangkat menjadi Duke of Windsor dan menikahi Wallis di Prancis pada Juni 1937, begitu perceraiannya resmi selesai. Gereja Inggris tidak mau merestui pernikahan itu, dan tidak ada anggota senior keluarga kerajaan yang hadir. Pemerintahan George VI kemudian memutuskan bahwa Wallis, yang kini menjadi Duchess of Windsor, tidak akan mendapatkan gelar Her Royal Highness, sebuah keputusan yang dianggap Edward sebagai penghinaan pribadi dan tidak pernah ia maafkan, dan yang tetap menjadi ganjalan hubungan kedua bersaudara itu.

Skandal itu justru semakin dalam, bukan mereda. Pada 1937, sang Duke dan Duchess yang baru menikah mengunjungi Jerman Nazi dan bertemu Adolf Hitler di tempat peristirahatannya di pegunungan, kunjungan yang disertai foto-foto, termasuk satu foto Edward yang tampak memberi salut ala Nazi, yang membayangi reputasinya seumur hidup. Selama Perang Dunia Kedua, ia ditempatkan, cukup jauh dari Eropa, sebagai Gubernur Bahama, sebuah peran yang saat itu luas dipahami sebagai cara menjaganya tetap berjarak aman dari politik masa perang. Dokumen diplomatik Jerman yang disita dan dirilis setelah perang menunjukkan bahwa sejumlah pejabat Nazi pernah membicarakannya sebagai calon boneka jika Jerman menang perang, meski seberapa serius gagasan itu dipertimbangkan oleh kedua belah pihak masih diperdebatkan.

Edward dan Wallis menghabiskan sebagian besar sisa hidup mereka di Prancis, hampir sepenuhnya tersisih dari kehidupan kerajaan resmi, sesekali menghadiri acara keluarga seperti pemakaman George VI pada 1952, tetapi tidak pernah sepenuhnya berdamai dengan institusi yang telah ditinggalkan Edward. Ia meninggal pada 1972; Wallis hidup lebih lama hingga 1986, menghabiskan tahun-tahun terakhirnya dalam kesendirian.

Apa yang sebenarnya berubah

Krisis pengunduran diri ini melakukan lebih dari sekadar mengakhiri satu masa pemerintahan. Krisis ini menegaskan, dengan cara yang paling gamblang, bahwa monarki Inggris pada abad kedua puluh beroperasi dalam batasan yang ditetapkan pemerintah terpilih, bukan kehendak pribadi keluarga kerajaan, dan itu mengeraskan sikap resmi institusi ini terhadap perceraian selama satu generasi, sikap yang kembali muncul ketika keponakan Edward, Putri Margaret, dihalangi menikahi seorang pria yang bercerai pada 1950-an, dan lagi, puluhan tahun kemudian, ketika aturan itu akhirnya melonggar cukup jauh untuk mengizinkan pernikahan ulang di kalangan kerajaan setelah perceraian. Pemerintahan Edward VIII berlangsung kurang dari setahun dan sama sekali tidak menghasilkan upacara penobatan, namun hanya sedikit pemerintahan singkat dalam sejarah Inggris yang meninggalkan bayangan sepanjang ini.

Jawaban Singkat

Pertanyaan umum seputar topik ini

Benarkah Edward VIII melepaskan takhtanya hanya demi cinta?

Itulah alasan yang ia sampaikan sendiri dalam pidato pengunduran dirinya, dan secara umum memang benar. Namun catatan sejarah juga menunjukkan bahwa pemerintah sudah lebih dulu menilai ia tidak cocok untuk jabatan itu dan memakai isu pernikahannya sebagai alat untuk menyingkirkannya, sehingga cinta lebih tepat disebut sebagai pemicu ketimbang satu-satunya penyebab.

Apakah Wallis Simpson ditolak hanya karena ia orang Amerika yang bercerai?

Kewarganegaraannya kurang begitu berpengaruh dibanding status pernikahannya. Sebagai raja, Edward juga akan menjadi kepala Gereja Inggris, yang saat itu tidak mengakui pernikahan ulang seorang yang telah bercerai selama mantan pasangannya masih hidup, dan Wallis sudah pernah bercerai sekali serta sedang dalam proses perceraian kedua ketika krisis ini meletus.

Apa yang terjadi pada Edward dan Wallis setelah pengunduran diri itu?

Mereka menikah di Prancis pada 1937 dan sebagian besar hidup di luar negeri sebagai Duke dan Duchess of Windsor, hampir sepenuhnya tersisih dari kehidupan kerajaan. Kunjungan kontroversial mereka ke Jerman Nazi pada 1937 membayangi reputasi keduanya seumur hidup. Edward meninggal pada 1972 dan Wallis pada 1986.

Bisakah Edward tetap menjadi raja dan diam-diam menjadikan Wallis sebagai kekasih gelap saja?

Mungkin saja, dan konon sejumlah pihak di pemerintahan berharap persis seperti itu. Namun Edward ingin menikahinya, dan begitu pers Inggris memecah kebisuannya pada Desember 1936, opsi untuk bersikap diskret sudah tidak tersedia lagi bagi kedua belah pihak.

Panggil Sidang Istana

Ngobrol dengan raja, ratu, dan bangsawan istana di pusat skandal ini.

Masuk ke Istana

Gabung HistorIQly Club

Jadilah lebih cerdas soal masa lalu.

Cerita mingguan, ulasan mendalam, dan konten eksklusif langsung ke kotak masukmu.

Tanpa spam. Bisa berhenti kapan saja.